SUMSEL  

EO Disebut Sarang Korupsi, Ketua Gekrafs Sumsel Randika: lukai Jutaan Pejuang Ekraf

Ketua Gekrafs Sumsel Randika Pranata dalam acara Rakernas Gekrafs 2026

Palembang, Sumatera Selatan – Pernyataan mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu yang menyebut industri event organizer (EO) sebagai “sarang korupsi” menuai reaksi dari berbagai kalangan. Kritik tersebut bertolak belakang dengan semangat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang selama ini mendorong ekonomi kreatif, UMKM, dan industri berbasis kreativitas sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. Randika Pranata, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) menanggapi bahwasannya industry Event Organizer (EO) memiliki peranan penting bagi roda perekonomian dari sisi sector UMKM dan ekonomi kreatif.

Menurut Randika, arah kebijakan Presiden Prabowo justru menempatkan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu tulang punggung penciptaan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, narasi yang memberikan stigma negatif bagi industri EO secara menyeluruh memilik dampak buruk terhadap jutaan pekerja kreatif di lapangan.

“Industri Event Organizer (EO) jelas salah satu motor penggerak ekonomi bangsa, berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) dan menggerakan ekonomi hingga ke pelosok daerah, jangan sampai Kamis (9/4/26).

Randika menegaskan bahwa narasi yang disampaikan Said Didu bahwa Industri EO sebagai sarang korupsi sangat melukai jutaan pejuang ekraf di tanah air yang sudah berusaha memberikan kontribusi terbaiknya untuk negeri ini dibidang masing-masing, terlebih sektor yang memberi kontribusi industri EO terhadap produk domestik bruto mencapai Rp128 triliun.

Ia juga myampaikan bahwa industri EO melibatkan lebih dari 14.800 UMKM, lebih dari 270 ribu pekerja event profesional, hingga jutaan freelancer yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

Menurut Randika, adanya stigma negatif terhadap EO akan berdampak kepada para pelaku di industri ini memiliki kecendrungan menarik diri dalam bentuk kerjasama dengan pihak-pihak korporasi dan pemerintahan serta menjadikan para pelaku ekonomi kreatif di Industri EO skalanya akan cenderung menurun dikarenakan hanya mengandalkan jasa di sektor perorangan.

“Kalo stigma negatif ini terus bermunculan, teman-teman pelaku ekraf yang terafiliasi dengan EO bakal hati-hati juga terima tawaran job, ujung-ujungnya cuma berani ambil job perorangan yang skalanya terbatas” ujarnya.

Tak sedikit netizen yang menilai pernyataan Said Didu terlalu generalisasi dan berpotensi merugikan pekerja kreatif. Mereka berharap industri EO tidak disudutkan hanya karena adanya dugaan penyimpangan di sejumlah kegiatan tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *